SYAIR BURUNG PUNGGUK

Pertama mula Pungguk merindu, 
Berbunyilah guruh mendayu-dayu, 
Hatinya rawan bercampur pilu, 
Seperti dihiris dengan sembilu.

Pungguk bermadah seraya merawan, 
"Wahai Bulan, terbitlah tuan, 
Gundahku tidak berketahuan, 
Keluarlah bulan tercelah awan,"

Ketika bulan sedang berkurung, 
Pungguk terbang segenap lorong, 
Ramai bertanya sekalian burung, 
Pungguk wahai mengapa nan murung.

Bulan purnama cahayanya terang, 
Bintang seperti intan dikarang, 
Rawannya pungguk bukan sebarang, 
Berahikan bulan di tanah seberang.

Tengah malam pungguk terjaga, 
Melihat bintang puyuh berlaga, 
Bintang belatik beratur tiga, 
Cahayanya terang tidak terhingga.

Rawannya pungguk tidak terperi, 
Melihat bintang putih berseri, 
Bulan purnama tiadanya berseri,
Harapkan boleh pungguk memberi,

Sebuah tilam kita beradu,
Mendengarkan pungguk merindu, 
Suaranya halus tersedu-sedu, 
Laksana orang berahikan jodoh.

Pungguk merawan setiap bulan, 
Sebilang jitun berlompatan, 
Bulan mengandung disebelah lautan, 
Mendengarnya bersambut-sambutan.

Di atas beraksa berapa lama, 
Gilakan cahaya bulan purnama, 
Jikalau bulan jatuh kerama, 
Di manakah dapat pungguk bersama.

"Pungguk bermadah seraya merawan, 
Wahai bulan terbitlah tuan, 
Gundahku tidak berketahuan, 
Keluarlah bulan tercelah awan,"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANTUN

Narasi