Narasi
Menari di Atas Langit
la muncul sebagai tirai warna-warni yang terbentang lembut di antara langit yang baru saja dilewati hujan. Setiap pita cahayanya satu ke yang lain dengan kelancaran sutra yang disulam oleh tangan alam, tanpa ada garis yang menghalangi aliran merah ke oranye, kuning ke hijau, hingga ungu yang memudar lembut ke dalam lapisan biru langit. Sebuah cahaya yang menghubungkan langit dan bumi.
Menari lembut di atas panggung tak terbatas. Menari bersama hembusan angin sebagai iramanya. Ia menyentuh puncak gunung dengan ujungnya yang paling tinggi, tertutup kabut tipis. Telah menunggu untuk seseorang yang bisa membaca pesan tersembunyi di antara warnanya.
Hari-hari berlalu, banyak yang terpesona namun tak seorang-pun menyadari. Warnanya makin redup, antar aliran tersamar. la sebagai penjaga sumber kehidupan di kaki gunung. Air sumur keruh, tanaman layu, langit selalu mendung. Hanya penyair tua, Ki Agung yang menyadari itu saat berlindung di bawah pohon asam. Namun, dinding tak terlihat menghalanginya untuk mendekat.
Ketika pelangi hampir hilang, Ki Agung kembali dengan buku puisi dan cerita tentang manusia dan alam. Ia membacanya dengan penuh keyakinan, hingga dinding penghalang lenyap dan pelangi kembali bersinar dengan kilau yang lebih terang. Dari tengah muncul tongkat kayu beringin yang berwarna seperti pelangi. "Sumber kehidupan akan hilang jika manusia melupakan alam. Ambillah tongkat ini untuk menyampaikan pesanku." suara itu terdengar.
Saat menerima tongkat itu, warna-warna pelangi menyebar ke seluruh gunung dan desa. Air sumur kembali jernih, tanaman tumbuh subur, dan udara terasa lebih segar. Ki Agung mulai berjalan hingga ujung desa, membacakan puisi dan menyebarkan pesan, pentingnya merawat dan menjaga alam. "Pelangi, yang berdiri di atas langit, seperti mahkota yang berwarna. Kau alirkan energi dari langit, sebagai harapan yang selalu ada. "Lantunan puisi Ki Agung yang indah.
Pelangi tetap menjelma pasca hujan, kini dengan pelangi kecil, yang bersinar seperti permata di kanvas langit biru, dengan awan selembut sutra. Di bawah pohon asam, tongkat kayu beringin ki Agung mengakar pada tanah subur. Setiap musim, bunga bermekaran dengan kelopak yang menyimpan spektrum warna. Merah sehangat matahari, kuning seindah senyuman, biru sedalam hati yang penuh syukur. Aroma bunga yang terbawa angin selalu mengingatkan, alam dan manusia adalah satu ikatan yang tak terpisahkan Saling menjaga seperti bagian dari diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar